Di sebuah beranda panggung di kaki Gunung Egon, aroma daun tarum yang difermentasi menyengat pelan bersama kepulan asap dapur kayu. Mama Maria Helena (63 tahun) duduk bersila dengan pinggang diikat tali kayu pengencang lungsi tenun. Bunyi ketukan kayu belida berirama mantap seperti detak jantung purba yang tak pernah berhenti selama ratusan generasi.
Bagi masyarakat di lembah Sikka dan Lio, sehelai kain tenun ikat bukan sekadar busana pesta adat atau komoditas pariwisata. Setiap motif—mulai dari merak, bua moko, hingga jalur garis geometris yang rumit—adalah ensiklopedia botani, catatan silsilah marga, sekaligus ikrar perjanjian kosmis antara manusia, leluhur, dan tanah tempat ari-ari mereka ditanam.
“Ketika saya memintal benang kapas, saya mengingat ibu saya. Dan ibu saya mengingat neneknya,” tutur Mama Maria sembari memperlihatkan untaian benang kapas yang dipintal manual menggunakan roda kayu kecil. “Di zaman sekarang benang pabrik murah dan gampang dibeli, tetapi benang itu tidak bernyawa. Kapas yang kami tanam di kebun sendiri mengerti air mata dan keringat kami.”
Proses pewarnaan alami di Flores menuntut kesabaran yang luar biasa. Akar pohon mengkudu (Morinda citrifolia) digali pada fase bulan tertentu untuk menghasilkan warna merah terakota yang pekat dan tahan cuaca. Daun tarum (Indigofera tinctoria) direndam dan diaduk berhari-hari bersama abu dapur dan kulit kerang kapur untuk melahirkan spektrum biru laut malam yang magis.
Theresia Weni
Menulis tentang sosiologi pedesaan, kebudayaan lisan, dan dinamika sosial masyarakat Nusa Tenggara Timur.